Label

Kamis, 06 Juni 2013

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar Mengajar

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN
BELAJAR MENGAJAR

 



 
MAKALAH
Merupakan Tugas Mata Kuliah Pengelolaan Pengajaran PAI

Oleh:
Mustolih
 
 
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAIS) BUMI SILAMPARI
LUBUKLINGGAU
2012




A.      Latar Belakang.
Peran pendidikan sangat penting dalam kehidupan manusia bahkan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses kehidupan manusia. Dengan kata lain, kebutuhan manusia terhadap pendidikan bersifat mutlak dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, bangsa dan negara. Keberhasilan  proses belajar mengajar merupakan faktor utama dari keberhasilan tujuan pendidikan secara umum.
Pengertian Belajar menurut C.T. Morgan dalam buku Introduction To Psychology (1961), Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat / hasil dari pengalaman yang lalu. Ringkasnya ia mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.Siswa mengalami suatu proses belajar.[1]
Dalam proses belajar tesebut, siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, adanya penguatan-penguatan, adanya evaluasi dan keberhasilan belajar, menyebabkan siswa semakin sadar, akan kemampuan dirinya.
Pengertian Mengajar Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (1998: 150) mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan atau melatih kecakapan-kecakapan atau keterampilan-keterampilan kepada anak-anak.[2]
Sedangkan keberhasilan menurut  Syaiful Bahri Djamarah adalah “ Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai”[3].
Dalam kurikulum terbaru ketika tujuan pembelajaran di disebutkan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar, maka kegiatan belajar mengajar dikatakan berhasil jika setelah terjadinya proses belajar mengajar, peserta didik memiliki kemampuan/kompetensi seperti yang disebutkan dalam kompetensi dasar.
B.       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar Mengajar.
Keberhasilan belajar mengajar merupakan hal yang sangat diharapkan guru dalam melaksanakan tugasnya, namun guru bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar tersebut. Menurut Syaiful Bahri Djamarah ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar yaitu: “ Faktor tujuan, guru, peserta didik, kegiatan pengajaran, alat evaluasi, bahan evaluasi dan suasana evaluasi”[4]
1.    Faktor Tujuan.
Tujuan adalah pedoman sekaligus sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan pembelajaran menggambarkan bentuk tingkah laku, kemampuan/kompetensi yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah proses pembelajaran. Perumusan tujuan akan mempengaruhi kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru dan akan secara langsung berpengaruh pada kegiatan belajar peserta didik. Guru dengan sengaja akan menciptakan lingkungan belajar guna mencapai tujuan, jika kegiatan belajar anak didik dan kegiatan pengajaran guru tidak searah maka tujuan pembelajaran akan gagal.

Menurut Arikunto “Untuk mencapai hasil yang optimal, tujuan pembelajaran khusus harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga bersifat sangat khusus, hanya menunjukan satu pengetahuan atau ketrampilan saja. Berpusat kepada siswa, artinya menunjuk langsung kepada kepentingan siswa, menunjuk pada situasi tertentu dalam kondisi apa tujuan tersebut dapat tercapai serta menunjuk pada tingkat atau nukuran yang telah ditentukan”[5]

Dari rumusan tujuan pembelajaran khusus diatas dapat dijabarkan kedalam komponentujuan pembelajaran, menurut Sunhaji ada beberapa komponen-komponen tujuan pembelajaran yaitu: “ Siswa atau perfomer, tingkah laku atau perbuatan, kondisi dan kriteria”[6]
a.         Siswa atau Perfomer.
Siswa atau subjek belajar yang melakukan kegiatan belajar, perumusan tujuan hendaknya menyebutkan secara jelas siapa yang akan menunjukan atau mendemonstrasikan hasil belajar, yakni yang melakukan kegiatan belajar.
b.         Tingkah laku atau perbuatan.
Perbuatan ini merupakan predikat dari subjek dan dinyatakan dengan kata kerja operasional, perbuatan ini diharapkan terjadi apabila pelaku/subjek telah melakukan suatu program pengajaran.
c.         Kondisi.
Kondisi disini adalah syarat-syarat atau keadaan, suasana yang meliputi perbuatan itu. Mungklin kita meminta anak agar perbuatan itu dapat dilakukan dalam suasana atau kondisi tertentu menurut syarat-syarat tertentu. Komponen kondisi ini memperjelas kedudukan suatu perbuatan atau memberi keterangan dan dalam keadaan bagaimana, untuk pemenuhan syarat-syarat apa, dimana dan bilamana dan seterusnya.
d.        Kriteria.
Kondisi merupakan penjelasan dari suatu perbuatan, tetapi penjelasan itu tidak final, artinya masih bisa dipertajam atau dipersempit, sehingga memperoleh kepastian yang meyakinkan bahwa perbuatan tersebut benar-benar dapat diukur. Kriteria merupakan keterangan dari komponen kondisi, sebagai tuntutan minimal dan merupakan standar pengukuran keberhasilan pencapaian tujuan.
Karena sebagai pedoman sekaligus sasaran yang akan dicapai dalam setiap kali belajar mengajar, maka guru selalu diwajibkan merumuskan tujuan pembelajaran. Akhirnya tujuan merupakan satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
2.    Faktor Pendidik.
Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2003,  guru adalah tenaga pendidik profesional yang bertugas, mendidik, mengajar, melatih, membimbing dan mengevaluasi peserta didik. Guru adalah tenaga pendidik yang berpengalaman dalam bidang profesinya yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan, kepada siswanya di sekolah. Dengan ilmu yang dimilikinya, guru dapat menjadikannya siswa yang menjadi cerdas dan memiliki pribadi yang baik. Setiap guru mempunyai kepribadian masing-masing sesuai dengan latar belakang kehidupan sebelum mereka menjadi guru. Kepribadian guru diakui sebagai aspek yang tidak bisa dikesampingkan dari keberhasilan belajar mengajar untuk mengantarkan siswa menjadi orang yang berimu pengetahuan dan berkepribadian baik.
Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi kompetensi seseorang guru dibidang pendidikan dan pengajaran. Guru pemula dengan latar belakang pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya di sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pengabdiannya. Sedangkan guru yang tidak berlatar belakang keguruan akan banyak menemukan masalah dikelas, karena tidak memiliki bekal teori pendidikan dan keguruan. Berbagai permasalahan yang dikemukakan diatas adalah merupakan aspek yang ikut mempengaruhi keberhasilan belajar dan yang dihasilkan dapat bervariasi. Variasi itu dapat dilihat dari tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan pelajaran yang diberikan oleh guru dalam setiap kali pertemuan.
Peran guru di sekolah juga sangat penting dalam meningkatkan kemauan belajar anak anak. Seorang guru dapat memotivasi dan memberikan pengarahan kepada anak bagaimana cara belajar yang baik dan mengembangkan potensi lebih yang terdapat pada anak.
Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar, menurut Lukmanul Hakim “ Tiga aspek yang mempengaruhi  keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar yaitu: kepribadian, pandangan terhadap anak didik dan latar belakang guru”.[7]
a.    Kepribadian
Hal ini akan mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas didalam kelas.
b.    Pandangan terhadap anak didik
Proses belajar dari guru yang memandang anak didik sebagai mahluk individual dengan yang memiliki pandangan anak didik sebagai mahluk sosial akan berbeda. Karena prosesnya berbeda, hasil proses belajarnya pun akan berbeda.
c.    Latar belakang guru
Guru pemula dengan latar belakang pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena ia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya. Tingkat kesulitan yang ditemukan guru semakin berkurang pada aspek tertentu seiring dengan bertambahnya pengalamannya.
3.    Faktor Peserta Didik.
Anak didik adalah orang yang sengaja datang ke sekolah, orang tuanya yang memasukkannya untuk didik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari. Tanggung jawab guru tidak hanya terhadap seorang anak, tetapi dalam jumlah yang cukup besar. Anak dalam jumlah yang cukup besar itu tentu saja dari latar belakang kehidupan sosial keluarga yang berlainan dan mempunyai karakter yang berbeda pula. Kepribadian mereka ada yang pendiam, periang, suka bicara, kreatif, manja. Intelektual mereka juga dengan tingkat kecerdasan yang bervariasi, keadaan biologi merekapun berbeda. Karena itu, perbedaan anak pada sekolah biologis, intelektual dan psikologis ini dapat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar. Anak yang menyenangi pelajaran tertentu dan kurang menyenangi pelajaran yang lain adalah perilaku anak yang bermula dari sikap minat yang berlainan. Biasanya pelajaran yang disenangi akan dipelajari dengan senang hati. Sebaliknya, jika pelajaran yang kurang disenangi jarang dipelajari sehingga tidak heran bila isi dari pelajaran kurang dikuasai oleh siswa, akibatnya hasil ulangan siswa tidak baik. Sederetan angka yang terdapat dibuku raport siswa adalah buktinya dari keberhasilan proses belajar mengajar
Aspek dari anak didik yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar adalah :
a.    Psikologis anak didik
b.    Biologis anak didik
c.    Intelektual anak didik
d.   Kesenangan terhadap pelajaran
e.    Cara belajar anak didik
Hal di atas yang menyebabkan perbedaan karakteristik anak didik, misalnya pendiam, aktif, keras kepala, kreatif , manja dan sebagainya. Anak yang dengan ciri-ciri mereka masing-masing berkumpul di dalam kelas dan yang mengumpulkan tentu saja guru atau pengelola sekolah. Banyak sedikitnya jumlah anak didik dikelas akan mempengaruhi pengelolaan kelas.
Jenis jenis kecerdasan siswa sangat mempengaruhi pola pembelajaran yang akan dilakukan guru, yang pada akhirnya akan mempengaruhi  hasil  kegiatan pembelajaran. Menurut Howard Gadner kecerdasan siswa dibagi menjadi “Spasial atau visual, linguistik verbal, interpersonal, musikal/ritmik, naturalis, badan/kinestetik, intrapersonal, logis/matematis”[8].
a.    Spasial/Visual, berpikir dalam citra dan gambar, melibatkan kemampuan untuk memahami hubungan ruang dan citra mental, secara akurat mengerti dunia visual.
b.    Linguistik-verbal, berpikir dalam kata-kata, mencakup kemahiran dalam berbahasa untuk berbicara, menulis, membaca, menghubungkan dan menafsirkan.
c.    Interpersonal, berpikir lewat berkomunikasi pada orang lain, ini mengacu pada ketrampilan manusia, dapat dengan mudah membaca, berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain.
d.   Musikal-ritmik, berpikir dalam irama dan melodi, ada beberapa peran yang dapat diambil individu yang cenderung musikal, dari komposer hingga pendengar.
e.    Naturalis, berpikir dalam acuan alam, kecerdasan ini menyangkut pertalian seseorang dengan alam, yang dapat melihat pola dalam dunia alamiah dan mengidentifikasi, berinteraksi dengan proses alam.
f.     Badan-kinestetik, berpikir melalui sensasi dan gerakan fisik, merupakan kemampuan mengendalikan dan menggunakan badan fisik dengan mudah dan cekatan.
g.    Intrapersonal, berpikir secara refletif, ini mengacu pada kesadaran rekfletif mengenai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri.
h.    Logis-matematis, berpikir dengan penalaran, melibatkan pemecahan masalah secara logis dan ilmiah dan kemampuan matematis.
Selain jenis-jenis kecerdasan, hal lain yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran adalah gaya belajar siswa. Secara umum ada tiga gaya belajar yaitu: visual, auditorial dan kinestetik. Walaupun menurut Thomas Amstrong ” Kita tidak dapat memberi label kepada mereka sebagai pelajar visual, pelajar verbal maupun pelajar kinestetis karena tujuan dari suatu kegiatan pembelajaran adalah untuk memperluas dan mengembangkan intelegensia/kecerdasan anak didik”[9]. Tetapi modalitas VAK (Visual, Audio dan Kinestetis) menguntungkan bagi guru dalam proses pembelajaran jika guru dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kecenderungan yang ada, sehingga pembelajaran akan lebih efektif. Menurut Zulfinadri “ Meskipun kebanyakan orang memiliki akses pada ketiga modalitas (Visual, Audio, Kinestetis) hampir semua orang cenderung pada satu modalitas saja, yang berperan sebagai saringan untuk pembelajaran, pemrosesan dan komunikasi”.[10] Semua jenis kecerdasan dan gaya belajar anak sudah semestinya menjadi pertimbangan guru dalam menentukan metode, dan serta kegiatan pembelajaran lainnya.
Angka-angka dirapor menunjukkan bukti nyata dari keberhasilan belajar mengajar. Hal ini sebagai bukti bahwa tingkat penguasaan anak terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru, karena itu dikenalilah tingkat keberhasilan maksimal (istimewa), Optimal (baik sekali), minimal (baik) dan kurang untuk setiap bahan yang dikuasai anak didik
4.    Faktor Kegiatan Pengajaran.
Keberhasilan pembelajaran ditunjukan oleh dikuasainya tujuan pembelajaran oleh siswa, salah satu faktor keberhasilan dalam pembelajaran adalah faktor kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang efektif tidak dapat muncul dengan sendirinya, tetapi guru haarus dapat menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara optimal. Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya. Guru yang mengajar, anak didik yang belajar. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya belajar anak didik.
Ada 3 aspek yang dapat dilihat dari kegiatan pengajaran untuk keberhasilan belajar mengajar yaitu:
a. Gaya mengajar guru
Menurut Muhammad Ali, ada empat macam gaya mengajar[11] yaitu:
1)  Gaya mengajar klasik,
2)  Gaya mengajar teknologis,
3)  Gaya mengajar personalisasi
4)  Gaya mengajar interaksional
b. Pendekatan guru
1)   Pendekatan individual
Guru berusaha memahami anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya
2)   Pendekatan kelompok
Berusaha memahami anak didik sebagai mahluk sosial. Perpaduan kedua pendekatan ini akan menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik.
c. Strategi penggunaan metode
Penggunaan strategi belajar dapat digunakan lebih dari satu metode pengajaran misalnya penggunaan metode ceramah dengan metode tanya jawab. Jarang guru menggunakan satu metode dalam melaksanakan pengajaran, hal ini disebabkan rumusan tujuan yang dibuat guru tidak hanya satu, tetapi bisa lebih dari dua rumusan.
5.    Faktor Bahan  dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan atau evaluasi. Biasanya bahan dikemas dalam bentuk buku paket, untuk dikonsumsi anak didik. Bila masa evaluasi tiba, semua bahan yang sudah diprogramkan dan harus sudah selesai dalam jangka waktu tertentu dijadikan sebagai bahan dalam pembuatan item-item soal evaluasi.
Alat evaluasi yang digunakan biasanya dalam bentuk tes dan non tes. Non tes bisa dalam bentuk pengamatan proses pembelajaran, sedangkan tes hasil belajar menurut Asmawi Zainul “ Tes hasil belajar adalah alat ukur yang paling banyak digunakan untuk mengetahui keberhasilan seseorang dalam proses belajar mengajar atau pendidikan” [12]. Tes yang digunakan tidak hanya dalam bentuk soal benar-salah atau true-fall dan pilihan ganda, tetapi juga menjodohkan, melengkapi dan essay. Masing-masing alat evaluasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Soal objektif seperti pilihan ganda mempunyai kelebihan dapat menampung hampir seluruh materi pelajaran yang sudah dipelajari oleh anak didik dalam satu semester. Kelemahannya pada penguasaan anak didik terhadap bahan pelajaran bersifat semu, suatu penguasaan yang masih bersifat samar, hal ini disebabkan jawaban dari setiap soal sudah disiapkan alternatifnya, jika peserta didik tidak mengetahui jawabannya maka ia akan memilih secara acak dan bisa saja jawaban yang dipilihnya benar, meski ia tidak tahu.
Alat tes dalam bentuk essay dapat mengurangi sikap spekulasi pada anak didik, sebab alat tes ini hanya bisa dijawab jika anak didik benar-benar menguasai bahan pelajaran, jika tidak, kemungkinan besar anak didik tidak akan bisa menjawab dengan benar. Kelemahan alat tes ini pada pembuatan soal yang tidak memungkinkan untuk memuat semua bahan pelajaran dalam satu smester, untuk dapat disuguhkan pada waktu ulangan. Begitu juga dalam hal penilaian, walaupun ada standar penilaian, sikap objektifitas guru sangat berpengaruh dalam penilaian.
6.    Faktor Suasana Evaluasi.
Faktor suasana evaluasi merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Hal yang perlu diperhatikan dalam suasana evaluasi adalah:
a.         Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas.
b.         Semua murid dibagi menurut tingkatan masing-masing.
c.         Besar sedikitnya anak didik dalam kelas.
d.        Berlaku jujur, baik guru maupun anak didik selama evaluasi tersebut.
e.         Sikap pengawas yang berlebihan.
Semua hal tersebut mempengaruhi suasana evaluasi, pengelompokan anak didik dalam jumlah besar, sangat mempengaruhi kenyamanan, begitu juga pengacakan nomor tempat duduk, walaupun semua itu dimaksudkan untuk kejujuran anak dalam mengikuti evaluasi, agar tidak ada kerja sama atau nyontek bersama. Pengawas yang terlalu berlebihan dalam mengawasi siswapun demikian. Akan tetapi pengawas yang cuek, membiarkan peserta didik bekerja sama dalam mengerjakan soal evaluasi, atau membiarkan siswa menyontek akan berakibat siswa malas belajar, dengan harapan dapat melakukannya lagi pada evaluasi berikutnya.
C.     Kesimpulan.
Setiap kegiatan belajar mengajar, tentu menginginkan keberhasilan yang terukur, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan belajar mengajar antara lain: faktor tujuan, pendidik, peserta didik, kegiatan pengajaran, alat dan bahan evaluasi serta suasana evaluasi. Faktor-faktor tersebut tidak bisa berdiri sendiri tetapi saling berkaitan dan saling menunjang.
Guru harus memperhatiakan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut, jika ingin kegiatan pengajarannya berhasil. Karena keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar tidak mungkin datang dengan sendirinya, tetapi butuh perencanaan pengajaran yang matang, pelaksanaan yang bervariatif dari sisi metode, media, maupun suasana yang menunjang dalam evaluasi ynag merupakan alat ukur keberhasilan pembelajaran.



 


[1]   http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/pengertian-belajar.html
[2]   mitanggel.blogspot.com/2009/09/pengertian-mengajar.html
[3] Syaiful Bahri Dajamarah, Strategi Belajar mengajar, Rieneka Cipta, Jakarta 2010.Hal.105
[4]  Syaiful Bahri Djamarah, Ibid. Hal.109
[5]  Sunhaji, Strategi Pembelajaran, Grafindo Leteria Media, Yogyakarta, 2009.Hal.51
[6]  Sunhaji,Ibid, Hal.52
[7]  Lukmanul Hakim, Perencanaan Pembelajaran, CV Wacana Prima, Bandung 2010.hal. 91
[8]  Zulfiandri, Qualitan Teaching, Qualitama Tunas Mandiri, Jakarta 2010. Hal.80
[9]  Suciati, Belajar dan Pembelajaran 2, Universitas Terbuka, Jakarta 2007. Hal  2.12
[10]  Zulfiandri, Ibid.Hal. 83
[11]  Syaiful Bahri Djamarah, Opcit, hal.115
[12]  Zainul Asmawi, Tes dan Asesmen, Universitas terbuka, Jakarta 2007. Hal. 1.12